Sebilah
Rerumputan hijau pun pernah kuning
Beragam bunga adiwarna pun pernah layu
Gersang dan kering sekeliling
Sewaktu lampau tak terlampau
Pernah berdiri gagah
Tak pernah roboh
Terguncang pun tidak
Sebilah bambu
Sebilah kayu
Sebilah pisau
Tidak,
Pisau awalnya tak di sana
Sebilah bambu berdiri tegak
Tak roboh diterjang angin
Hujan tak melapukkannya
Entah apa dirinya
Hanya sebilah bambu
Katanya
Sebilah kayu di sampingnya
Berdiri tegak, tak pernah gentar
Tak roboh diterjang angin
Hujan pun tidak berdaya melawan
Entah apa dirinya
Hanya sebilah kayu
Katanya
Sebilah pisau tetiba muncul
Entah asalnya sama atau beda
Menusuk bambu
Mata pisaunya tak kenal ampun
Membelahnya hingga retak
Menembus dalam
Meninggalkan lubang kecil
Tak ada yang sadar
Pun apa ada kesadaran?
Hanya sebilah bambu
Tertusuk sebilah pisau
Atau ditusuk?
Lepas sudah dia
Menengok ke kanan kiri
Menunjuk target baru
Sebilah kayu
Tak ada jeda
Mata pisau tak menusuk
Tapi menyayatnya
Meninggalkan bekas sayatan
Tak panjang, tak dalam
Hanya ada, sekadar ada
Entah apa yang dituju
Sebilah pisau tak punya akal
Sebilah pisau tak punya kesadaran
Dorongan dari mana?
Akhirnya dia terdiam
Jatuh ke tanah
Mata pisaunya menghujam ke bawah
Membuatnya berdiri tegak
Diantara sebilah bambu dan kayu
Sebilah bambu
Sebilah kayu
Sebilah pisau
Ketiganya berdiri tegak
Kokoh menancap ke tanah
Keadaan berbeda diantara mereka
Entah apa sebabnya
Tiada yang tahu
Kecuali si pisau
Hanya dia
Sang penyimpan rahasia
Sang penyimpan rasa
3 Juli 2026
Komentar
Posting Komentar